Friday, 26 June 2020

Menjalani Proses untuk Menjadi Guru Berkualitas

Foto ilustrasi: Novita Eka Syaputri

 

Artikel ini merupakan bagian dari seri "Catatan Perjalanan Guru” dengan tema tantangan terbesar dalam mengajar sebagai guru muda.

 

Kata orang, semakin tua usia pohon jati, maka semakin tinggi harganya. Sama halnya dengan guru muda, yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk berproses hingga menjadi guru yang berkualitas.

Kualitas tidak hanya diukur dari penampilan luar yang menarik atau otak yang cerdas. Guru yang berkualitas berarti memiliki paket komplet yang meliputi pengetahuan, perilaku, dan karakter yang telah teruji. Penampilan luar sudah bukan hal penting saat kita telah memiliki kualitas tersebut.

Sebagai guru muda, saya sangat memahami panjangnya proses yang harus saya jalani. Banyak kasus yang harus saya pecahkan dan banyak pribadi (murid) yang harus saya pelajari dan pahami.

Proses yang Panjang

Penilaian orang tua murid terhadap guru berdasarkan usia menjadi salah satu tantangan besar saya. Beberapa kali saya menjumpai orang tua murid yang menganggap saya terlalu muda untuk menjadi guru.

Saya mulai mengajar di usia 22 tahun. Awalnya, penilaian dari orang tua murid itu membuat saya tertekan. Cita-cita menjadi guru pun sempat pudar. Keadaan itu berlangsung cukup lama hingga saya menghadapi suatu tantangan yang menurut saya paling “puncak” dalam 5 tahun saya mengajar.

Salah satu proses yang menurut saya sangat prinsipil terjadi beberapa bulan lalu. Saat itu, salah seorang wali murid tidak setuju dengan tata tertib yang diterapkan oleh sekolah, yaitu siswa tidak diperkenankan meminta orang tuanya mengantarkan buku pelajaran yang tertinggal.

Orang tua yang protes itu terus mendesak saya agar membolehkannya memberikan buku kepada anaknya. Saat saya menjelaskan peraturan yang berlaku, orang tua itu tidak dapat menahan emosinya. Dengan suara yang cukup keras, ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap peraturan tersebut.

Saat itu saya belajar untuk tetap mengontrol emosi dan berkepala dingin. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Akhirnya saya minta maaf karena tidak dapat memenuhi permintaan orang tua itu. 

Kejadian itu membuat saya tersadar bahwa seorang guru tidak hanya bertugas mendidik murid agar menjadi pandai, tetapi juga menjadi teladan untuk tetap berdiri pada kebenaran dan taat pada aturan. Saya juga belajar tentang pengendalian diri–yang ternyata masih perlu banyak dilatih.

Semua proses itu memang tidak mudah, tetapi, ketika mengingat kembali panggilan hati sebagai guru, saya menjadi tenang dan tegar.

Bekerja Sama dengan Orang Tua

Tantangan besar lain menurut saya adalah mengajak orang tua untuk mendidik bersama guru dan sepakat dengan pembentukan karakter anak. Kebanyakan orang tua di zaman sekarang cenderung memanjakan anaknya. Orang tua ingin melindungi anaknya agar tidak disakiti oleh siapa pun, termasuk saat anaknya mendapat hukuman dari sekolah karena melakukan kesalahan.

Keadaan ini menyebabkan pembentukan karakter anak sulit dilakukan. Perjuangan untuk terus menyadarkan orang tua dan mengajak mereka bekerja sama dalam membentuk karakter anak masih saya jalani hingga sekarang.

Saya menyadari ini adalah proses yang sangat panjang dan berkelanjutan. Pembentukan karakter tidak berhenti di tingkat sekolah dasar saja, melainkan perlu terus dikawal sampai ke jenjang-jenjang berikutnya.

Saya memang tidak dapat mengawal anak didik sepanjang hidup mereka, tetapi saya akan melakukan pengawalan yang terbaik ketika mereka berada di kelas saya.

 

“Jika tidak dapat melakukan hal yang besar, lakukaknlah kecil dengan cinta yang besar”

 

* Catatan ini ditulis oleh RCA, guru SD di Provinsi Jawa Tengah.

** Semua tulisan yang dipublikasikan dalam Catatan Perjalanan Guru merupakan pandangan penulis, telah melalui proses penyuntingan untuk keperluan penulisan populer, dan tidak mewakili pandangan Program RISE di Indonesia ataupun penyandang dana RISE.