Monday, 17 February 2020

Menjadi Guru Kelas 1 SD Butuh Tenaga Ekstra

Foto ilustrasi: Novita Eka Syaputri

 

Artikel ini merupakan bagian dari seri "Catatan Perjalanan Guru” dengan tema pengalaman mengajar.

 

Saya mulai mengajar pada Agustus 2016 di salah satu sekolah dasar (SD) negeri di Kabupaten Bandung. Di sekolah ini saya mengajar kelas 1, menggantikan guru sebelumnya yang diangkat menjadi kepala sekolah. Meski menggantikan guru tetap, status saya adalah guru pengganti atau guru infal sebab masih ada tiga guru lain yang juga berstatus guru infal.

Beberapa bulan kemudian, kepala sekolah memutuskan untuk menjadikan saya dan satu guru infal lain sebagai guru tetap. Status dua guru infal lain tidak berubah karena saat itu belum ada kelas yang tidak ada gurunya. Kedua guru tersebut diminta bersabar dan menunggu hingga ada kelas yang membutuhkan guru.

Saat kepala sekolah menyampaikan pengumuman tersebut kepada kami berempat, guru infal yang statusnya tidak berubah menangis. Mereka sedih dan tidak bisa menerima kenapa bukan mereka yang dipilih menjadi guru tetap.

Perasaan saya sendiri campur aduk saat mendengar keputusan kepala sekolah itu. Saya tidak menyangka hal itu akan terjadi, tetapi saya harus tetap bersemangat karena telah diberi kepercayaan.

Pada akhirnya, kedua guru infal yang tidak dijadikan guru tetap itu mengundurkan diri dari sekolah tanpa berpamitan dengan guru-guru lain.

 

Mengajar Kelas 1

Sekolah tempat saya mengajar kebetulan termasuk SD negeri percobaan (SDNP). Banyak orang tua tertarik menyekolahkan anak mereka di sekolah tipe ini karena umumnya dianggap lebih unggul dibandingkan sekolah lain.

Di SDNP, selain mata pelajaran inti (seperti pembelajaran tematik; pendidikan, jasmani, olah raga, dan kesehatan; matematika, bahasa Sunda, dan agama), ada juga ekstrakurikuler yang beragam, seperti pramuka, komputer, baca tulis Quran (BTQ), bahasa Inggris, dokter cilik, badminton, karawitan, futsal, seni tari, pencak silat, dan marching band. SDNP tempat saya mengajar juga termasuk sekolah pertama yang menerapkan Kurikulum 2013 di kabupaten ini.

Mengajar murid-murid kelas 1 SD membutuhkan suara dan tenaga ekstra karena karakteristik anak di kelas ini umumnya masih senang bermain dan baru mengenal suasana pendidikan formal. Selain itu, masih ada anak-anak yang belum bisa membaca atau menulis.

Pada tahun ajaran baru, saya mengenalkan sekolah kepada para murid selama lima hari melalui Masa Orientasi Siswa (MOS). Selama lima hari itu, orang tua masih boleh menunggui anak-anak mereka di luar kelas. Saya mengajak anak-anak berkeliling sekolah dan memberi tahu nama tiap ruangan. Saya juga mengajak mereka bermain game untuk memperkenalkan diri dan saling mengenal. Kegiatan terakhir dari MOS adalah saya mengetes kemampuan para murid dalam membaca dan menulis.

Setelah MOS selesai, saya mengadakan pertemuan dengan orang tua murid. Saat itu saya memperkenalkan diri, meminta kerja sama dari mereka, dan memberitahukan program-program yang ada di SDNP.

Saya senang karena sebagian besar orang tua bersedia bekerja sama dengan baik. Saya dan mereka selalu menyempatkan waktu untuk bersama-sama menjenguk murid yang sakit. Saat ada kegiatan renang pun orang tua selalu hadir sehingga hubungan saya dengan mereka terjalin dengan baik.

 

Menjalankan Beragam Tugas

Saya senang bekerja di SDNP antara lain karena sekolah menjalankan kurikulum dengan teratur. Setiap seminggu sekali para guru melakukan penilaian harian tentang subtema yang sedang dipelajari.

Pada 2016 dan 2017, guru yang mengajar kelas 1 adalah guru-guru muda. Kami bekerja sama dan membagi rata semua tugas administrasi kelas. Pada 2018, saya lebih banyak mengerjakan administrasi kelas sendiri karena waktu itu saya satu-satunya guru muda yang mengajar kelas 1. Guru senior menyerahkan sepenuhnya tugas administrasi kelas kepada saya.

Selain mengajar di kelas, saya pernah diberi kepercayaan untuk membimbing ekstrakurikuler dokter kecil. Tugas saya adalah memberi wawasan tentang dunia kesehatan kepada para murid.

Saya juga pernah dipercaya menjadi pembimbing kegiatan literasi membaca sebagai fondasi untuk mengikuti West Java Leader’s Reading Challenge. Alhamdulillah, salah satu murid SDNP mendapat penghargaan dalam kegiatan ini.

Selain itu, saya penah diminta membimbing murid untuk mengikuti perlombaan calistung (baca, tulis, hitung) dan aksara Sunda. Dalam perlombaan aksara Sunda, lagi-lagi alhamdulillah murid-murid bimbingan saya berhasil meraih juara harapan I dan II.

Masih banyak lagi kegiatan di luar pembelajaran yang telah saya lakukan sebagai guru, seperti mempersiapkan dan melaksanakan supervisi sekolah dan outdoor classroom day atau belajar di luar kelas, mengikuti perlombaan memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia, pameran kelas, workshop di luar sekolah, serta menjadi pembina upacara. Sebagai seorang guru, saya merasa semua kegiatan itu membuat saya terus belajar.

 

* Catatan ini ditulis oleh RO, guru SD di Provinsi Jawa Barat.

** Semua tulisan yang dipublikasikan dalam Catatan Perjalanan Guru merupakan pandangan penulis, telah melalui proses penyuntingan untuk keperluan penulisan populer, dan tidak mewakili pandangan Program RISE di Indonesia ataupun penyandang dana RISE.


Bagikan Postingan Ini